Blog ini menjawab segala fitnah dan syubhat daripada bahayanya Al-Ahbash dan pengikutnya seperti Abu-Syafiq yang mana mereka mengkafirkan kebanyakan ulama-ulama Ahl-Sunnah dan menuduh wahabi sebagai sesat.
Friday, March 30, 2018
Ahbash berselindung di sebalik ASWJ
Friday, July 17, 2009
Wahabi dan Asy’ariyah alias Asha’irah: Siapa yang mengikut aqidah Imam Abul Hasan asy’ariy??
Orang kata, wahabi mengatakan Allah memerlukan tempat kerana wahabi menetapkan sifat Allah istiwa’ di atas langit di ‘Arasy-Nya padahal ‘wahabi’ (pinjam kata-kata mereka) hanya menetapkan sifat istiwa’ bagi Allah dan tidak ada pun pernyataan ‘wahabi’ yang menyatakan Allah memerlukan tempat. Sedangkan Asha’irah mengatakan mereka mengikut aqidah Imam Abul Hasan Asy’ariy iaitu Allah wujud tanpa bertempat? Betulkah demikian? Haatu burhanakum inkuntum shadiqiin (Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar).
Apa yang penting bukan perkataan ulama yang menjadi neraca timbangan kebenaran, akan tetapi perkataan mereka (para ulama) yang bertepatan dengan syariat yang telah Allah turunkan kepada umat ini melalui lisan Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah dicontohkan oleh generasi terbaik umat ini yakni para sahabat ridhwanallah ‘alaihim jami’an.
Posting sebelum ini saya membawakan tulisan dari al-Ustadz Abul Jauzaa’ hafizhahullah berjudul -Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy, Asyaa’irah (Asy’ariyyah), dan Bahasan Pemalsuan Kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah-, dan kali ini saya bawakan tulisan yang sama (yang telah bahagikan kepada 2, untuk bagian pertama saya meletakkan judul “Wahabi Tipu Al-Ibanah Lagi????“) untuk pembahasan Aqidah sebenar Imam Abul Hasan Asy’ari rahimahullah. Semoga artikel ini memberi penjelasan kepada kita akan hakikat kelompok asy’ariyah yang ada di zaman ini, apakah sama pegangan mereka dengan sang imam, atau terbalik 180 darjah dari hakikat yang sebenar.
Ada beberapa tambahan dari saya seperti subtopik dan ubahan pada format tulisannya, saya juga ubah bahasa tulisan ini kepada bahasa melayu malaysia. Antara subtopik yang saya letakkan:
- Pernyataan Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy mengenai Sifat ‘Uluw/istiwa’ bagi Allah
- Perkataan Para Muktazilah, Jahmiyah Dan Haruriyah
- Perkataan para ulama yang menukil pegangan Imam Abul Hasan Asy’ariy
Silakan membaca:
Ustadz Abul Jauzaa’ menulis: Sebagaimana telah diketahui bersama, di akhir usia beliau kembali ke ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah setelah puluhan tahun lamanya beliau tenggelam dalam ‘aqidah Mu’tazillah dan Kullabiyyah [lihat Wifaayatul-A’yaan oleh Ibnu Khalkaan Asy-Syaafi’iy 2/446, Al-Bidaayah wan-Nihaayah oleh Ibnu Katsir 11/187, Thabaqaat Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubraa oleh Taajuddin As-Subkiy 2/246, dan yang lainnya]. Adalah keliru jika banyak kaum muslimin mengira beliau masih beraqidah Asy’ariyyah. Seorang imam ahli hadits dan pakar sejarah Islam yang diakui, Abu ‘Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman bin Qaimaz Ad-Dimasyqiy atau yang lebih dikenal dengan Adz-Dzahabiy rahimahullah, telah mengumpulkan beberapa riwayat dan nukilan ‘aqidah seputar sifat Allah menurut Ahlus-Sunnah dalam kitab Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-‘Adhiim[1], diantaranya adalah ‘aqidah Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah telah meringkas kitab tersebut dengan judul : Mukhtashar Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar.
Pernyataan Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy mengenai Sifat ‘Uluw/istiwa’ bagi Allah
Pada kesempatan kali ini, saya akan coba tuliskan ‘aqidah Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sebagaimana tertera dalam kitab Mukhtashar Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar halaman 236-243 (Penerbit Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401 H) atau Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar halaman 159-163 (Penerbit Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 2/1388 H) :
Abul-Hasan Al-Asy’ariy (260 – 324 H)
1. Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan ‘Aliy bin Isma’il bin Abi Bisyr Al-Asy’ariy Al-Bashriy, seorang ahli ilmu kalam, dalam kitabnya yang berjudul Ikhtilaaful-Mushalliin[2] wa Maqaalatul-Islaamiyyin menyebutkan kelompok Khawarij, Rafidlah, Jahmiyyah, dan yang lainnya, hingga kemudian beliau menyebutkan pernyataan Ahlus-Sunah dan Ashhaabul-Hadiits (dalam ‘aqidah) :
جملة قولهم الإقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وبما جاء عن الله وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يردون من ذلك شيئا. وأن الله على عرشه كما قال (الرحمن على العرش استوى) وأنه له يدين بلا كيف كما قال : (لما خلقت بيدي). وأن أسماء الله لا يقال إنها غير الله كما قالت المعتزلة والخوارج. وأقروا أن لله علما كما قال: (أنزله بعلمه) (وما تحمل من أنثى ولا تضع إلا بعلمه). وأثبتوا السمع والبصر ولم ينفوا ذلك عن الله كما نفته المعتزلة. وقالوا : لا يكون في الأرض من خير وشر إلا ما شاء الله وأن الأشياء تكون بمشيئته كما قال تعالى : (وما تشاؤون إلا أن يشاء الله) إلى أن قال : ويقولون : [إن] القرآن كلام الله غير مخلوق.
ويصدقون بالأحاديث التي جاءت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : (إن الله ينزل إلى السماء الدنيا فيقول هل من مستغفر) كما جاء الحديث. ويقرون أن الله يجيء يوم القيامة كما قال : (وجاء ربك والملك صفا صفا) وأن الله يقرب من خلقه كما يشاء قال : (ونحن أقرب إليه من حبل الوريد) إلى أن قال : فهذا جملة ما يأمرون به ويستعملونه ويرونه وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب وما توفيقنا إلا بالله.
“Kesimpulan dari perkataan mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) adalah pengakuan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan apa-apa yang datang dari Allah serta apa yang disampaikan oleh para perawi tsiqaat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; tanpa menolak sedikitpun dari semua hal itu. Dan bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Juga (Allah) mempunyai dua tangan, sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya nama-nama Allah tidak dikatakan sebagai selain Allah seperti dikatakan Mu’tazilah dan Khawarij.
Mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) juga menetapkan bahwa Allah mempunyai ilmu, sebagaimana firman-Nya : ‘Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya’ (QS. An-Nisaa’ : 166). ‘Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya’ (QS. Fathir : 11). Mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) juga menetapkan sifat mendengar serta melihat bagi Allah, dan tidak menafikannya dari Allah sebagaimana Mu’tazillah telah menafikannya. Mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) mengatakan : ‘Tidak ada satupun kebaikan dan kejelekan yang terjadi di muka bumi kecuali apa-apa yang telah dikehendaki Allah. Segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya ta’ala : ‘Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah’ (QS. At-Takwir : 29)”.
Hingga beliau (Al-Imam Asy-ariy rahimahullah) berkata : “Dan mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) berkata : ‘Sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk”.
Dan mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) membenarkan hadits-hadits yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, dan berfirman : Apakah ada orang yang memohon ampun (kepada-Ku) ?’; sebagaimana disebutkan dalam hadits. Mereka pun mengakui bahwa Allah akan datang pada hari kiamat sebagaimana firman-Nya : ‘Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris’ (QS. Al-Fajr : 22). Dan bahwasannya Allah dekat dengan makhluk-Nya seperti yang Dia kehendaki, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16)”.
Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy rahimahullah) berkata : “Ini semua adalah kesimpulan dari apa yang mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) perintahkan dengannya, dan mereka amalkan dan berpendapat. Semua yang kami sebutkan dari perkataan mereka adalah juga yang kami katakan dan bermadzhab dengannya. Dan tidak ada yang memberikan taufiq kepada kita melainkan Allah”.[3]
2. Al-Imam Al-Asy’ariy rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya di atas (yaitu : Maqaalatul-Islaamiyyiin) pada bab : ‘Apakah Allah berada di suatu tempat tertentu, atau tidak berada di suatu tempat, atau berada di setiap tempat ?’ ; maka beliau berkata :
إختلفوا في ذلك على سبع عشرة مقالة منها قال أهل السنة وأصحاب الحديث إنه ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وإنه على العرش كما قال : (الرحمن على العرش استوى). ولا نتقدم بين يدي الله بالقول، بل نقول استوى بلا كيف وإن له يدين كما قال : (خلقت بيدي) وإنه ينزل إلى سماء الدنيا كما جاء في الحديث.
ثم قال : وقالت المعتزلة استوى على عرشه بمعنى إستولى وتأولوا اليد بمعنى النعمة وقوله تجري بأعيننا أي بعلمنا
“Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya). Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya. Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.
Kemudian beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata : “Mu’tazillah berkata : ‘Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya’ ; dengan makna menguasai (istilaa’). Dan mereka menta’wilkan pengertian tangan (Allah) dengan nikmat. (Dan juga menakwilkan) firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14), yaitu : dengan ilmu Kami”.[4]
3. Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata dalam kitabnya yang berjudul Jumalul-Maqaalaat :
رأيته بخط المحدث أبي علي بن شاذان فسرد نحوا من هذا الكلام في مقالة أصحاب الحديث. تركت إيراد ألفاظه خوف الإطالة والمعنى واحد
“Aku melihat tulisan Muhaddits Abu ‘Aliy bin Syaadzaa – lalu menuangkan perkataan yang semisal dengan di atas dalam (Bab) Maqaalaatu Ashhaabil-Hadiits. Aku tingalkan penyebutan lafaznya karena khuatir akan menjadi panjang (pembahasannya), padahal maknanya adalah satu (sebagaimana telah disebutkan sebelumnya)”.
4. Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah dalam kitabnya Al-Ibaanah fii Ushuulid-Diyaanah, pada Baab Al-Istiwaa’ :
فإن قال قائل : ما تقولون في الإستواء ؟. قيل [له] نقول : نقول إن الله مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وقال : (إليه يصعد الكلم الطيب) وقال : (بل رفعه الله إليه) وقال حكاية عن فرعون : (وقال فرعون يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السموات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا). فكذب موسى في قوله : إن الله فوق السموات. وقال عزوجل : (أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) فالسموات فوقها العرش، فلما كان العرش فوق السموات. وكل ما علا فهو سماء، وليس إذا قال : (أأمنتم من في السماء) يعني جميع السموات، وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السموات، ألا ترى أنه ذكر السموات فقال : (وجعل القمر فيهن نورا) ولم يرد أنه يملأهن جميعا، [وأنه فيهن جميعا]. قال : ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم – إذا دعوا – نحو السماء لأن الله مستو على العرش الذي هو فوق السماوات، فلو لا أن الله على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش.
“Apabila seseorang bertanya : ‘Apa yang engkau katakan mengenai istiwaa’ ?’. Maka dikatakan kepadanya : ‘Kami mengatakan sesungguhnya Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik’ (QS. Fathir : 10). ‘Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya’ (QS. An-Nisaa’ : 158). Allah juga berfirman mengenai hikayat/cerita Fir’aun : ‘Dan berkatalah Firaun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” (QS. Al-Mukmin : 36-37). Fir’aun mendustakan Musa yang mengatakan : ‘Sesungguhnya Allah berada di atas langit’. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Yang berada di atas langit adalah ‘Arsy (dimana Allah bersemayam/ber-istiwaa’ di atasnya). Ketika ‘Arsy berada di atas langit, maka segala sesuatu yang berada di atas disebut langit (as-samaa’). Dan bukanlah yang dimaksud jika dikatakan : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit’ ; yaitu semua langit, namun yang dimaksud adalah ‘Arsy yang berada di puncak semua langit. Tidakkah engkau melihat bahwasannya ketika Allah menyebutkan langit-langit, Dia berfirman : ‘Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya’ (QS.Nuuh : 16) ? Bukanlah yang dimaksud bahwa bulan memenuhi seluruh langit dan berada di seluruh langit”.
Beliau (Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah) melanjutkan : “Dan kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan mereka – ketika berdoa – ke arah langit, karena (mereka berkeyakinan) bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) di ‘Arsy yang berada di atas semua langit. Jika saja Allah tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengarahkan tangan mereka ke arah ‘Arsy”.
Perkataan Para Muktazilah, Jahmiyah Dan Haruriyah
وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، فلو كان كما قالوا كان لا فرق بين العرش وبين الأرض السابعة لأنه قادر على كل شيء، والأرض شيء، فالله قادر عليها وعلى الحشوش.
وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.
“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan.
Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)”.
Kemudian Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah menyebutkan beberapa dalil dari Al-Kitab (Al-Qur’an), As-Sunnah, dan akal selain yang tersebut di atas.[5]
Perkataan para ulama yang menukil pegangan Imam Abul Hasan Asy’ariy
5. Al-Imam Abu Bakr bin Faurak menukil perkataan di atas dari para ahli hadits, dari Abul-Hasan Al-Asy’ariy dalam kitab Al-Maqaalaatu wal-Khilaaf Bainal-Asy’ariy wa Baina Abi Muhammad ‘Abdillah bin Sa’iid bin Kullaab Al-Bashriy – tulisan Ibnu Faurak. Beliau (Ibnu Faurak) berkata :
الفصل الأول في ذكر ما حكى أبو الحسن رضي الله عنه في كتاب المقالات من جمل مذاهب أصحاب الحديث وما أبان في آخره أنه يقول بجميع ذلك.
“Pasal Pertama : Penyebutan Apa-Apa yang Dihikayatkan Abul-Hasan Radliyallaahu ‘anhu dalam Kitab Al-Maqaalaat dari Kumpulan Pendapat Ashhaabul-Hadiits dan Apa yang Dijelaskan di Akhir Kitab tersebut Bahwa Beliau Mengatakan Keseluruhan Pendapat Tersebut.”
Ibnu Faurak kemudian menyatakan perkataan tersebut apa adanya, lalu berkata di bagian akhirnya :
فهذا تحقيق لك من ألفاظه أنه معتقد لهذه الأصول التي هي قواعد أصحاب الحديث وأساس توحيدهم
“Ini adalah satu penelitian bagi Anda dari perkataan Al-Asy’ariy bahwasannya beliau berkeyakinan dengan prinsip ini dimana hal itu merupakan kaidah yang dipegang oleh Ashhaabul-Hadiits dan pondasi bagi ketauhidan mereka”.
Telah berkata Al-Haafidh Abul-‘Abbas Ahmad bin Tsaabit Ath-Tharqiy[6] : Aku pernah membaca kitab Abul-Hasan Al-Asy’ariy yang berjudul Al-Ibaanah beberapa dalil yang menetapkan al-istiwaa’ (bersemayam). Beliau berkata dalam kesimpulan atas hal tersebut :
ومن دعاء أهل الإسلام إذا هم رغبوا إلى الله يقولون : يا ساكن العرش ومن حلفهم : لا والذي إحتجب بسبع.
“Termasuk salah satu doa orang Islam saat mereka berharap kepada Allah, mereka berkata : ‘Wahai yang penghuni ‘Arsy dan Dzat yang dijadikan sumpah oleh mereka’ ; tidak (dikatakan) : ‘Demi Dzat yang terhijab oleh tujuh langit”.[7]
6. Telah berkata Al-Ustadz Abul-Qaasim Al-Qusyairiy rahimahullah dalam Syikaayatu Ahlis-Sunnah :
ما نقموا من أبي الحسن الأشعري إلا أنه قال بإثبات القدر، وإثبات صفات الجلال لله، من قدرته، وعلمه، وحياته، وسمعه، وبصره، ووجهه، ويده، وأن القرآن كلامه غير مخلوق.
سمعت أبا علي الدقاق يقول : سمعت زاهر بن أحمد الفقيه يقول مات الأشعري رحمه الله ورأسه في حجري فكان يقول شيئا في حال نزعه لعن الله المعتزلة موهوا ومخرقوا
“Tidaklah mereka membenci Abul-Hasan Al-Asy’ariy kecuali karena ia telah menetapkan adanya qadar, menetapkan sifat keagungan bagi Allah, mulai dari kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, hidup-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, wajah-Nya, tangan-Nya, dan bahwasannya Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.
Aku pernah mendengar Abu ‘Aliy Ad-Daqaaq berkata : Aku pernah mendengar Zaahir bin Ahmad Al-Faqiih berkata : ‘Ketika Al-Asy’ariy rahimahullah menjelang wafat, kepalanya berada di pangkuanku, maka beliau mengatakan : ‘Semoga Allah melaknat Mu’tazillah. Mereka telah tertipu dan telah berdusta”.[8]
7. Telah berkata Al-Haafidh Al-Hujjah Abul-Qaasim bin Al-‘Asaakir dalam kitabnya Tabyiinu Kadzibil-Muftariy fii maa Nusiba ilaa Al-Asy’ariy :
فإذا كان أبو الحسن رحمه الله كما ذكر عنه من حسن الإعتقاد، مستصوب المذهب عند أهل المعرفة والإنتقاد، يوافقه في أكثر ما يذهب إليه أكابر العباد، ولا يقدح في مذهبه غير أهل الجهل والعناد، فلا بد أن يحكى عنه معتقده على وجهه بالأمانة، ليعلم حاله في صحة عقيدته في الديانة، فاسمع ما ذكره في كتاب الإبانة فإنه قال : ((الحمد لله الواحد العزيز الماجد، المتفرد بالتوحيد، المتمجد بالتمجيد، الذي لا تبلغه صفات العبيد، وليس له مثل ولا نديد….)). فرد في خطبته على المعتزلة والقدرية والجهمية [والرافضة. إلى أن قال : فإن قال قائل : قد أنكر تم قول المعتزلة والقدرية والجهمية] والحرورية والرافضة والمرجئة، فعرفونا ما قولكم الذي تقولون، وديانتكم التي بها تدينون ؟ قيل له : قولنا الذي به نقول، وديانتنا التي بها ندين، التمسك بكتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم، وما روي عن الصحابة والتابعين وأئمة الحديث، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان عليه أحمد بن حنبل نضر الله وجهه قائلون، ولمن خالف قوله مجانبون، لأنه الإمام الفاضل، والرئيس الكامل، الذي أبان الله به الحق عند ظهور الضلال، وأوضح به المنهاج، وقمع به المبتدعين، فرحمه الله من إمام مقدم، وكبير مفهم وعلى جميع أئمة المسلمين.
“Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah, sebagaimana telah disebutkan dari beliau, adalah seorang yang mempunyai keyakinan (i’tiqad) yang baik, sesuai dengan madzhab yang ditempuh para ulama, dimana sebagian besar perkataannya mencocoki madzhab mereka (para ulama). Tidak ada yang mencela madzhabnya[9] kecuali dari kalangan orang-orang bodoh dan ingkar. Maka, sudah seharusnya bagi seseorang yang ingin menjelaskan i’tiqadnya disertai rasa amanah agar dapat diketahui kebenaran ‘aqidahnya dalam perkara agama. Maka, dengarkanlah apa yang telah ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul Al-Ibaanah : ‘Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa, Maha Agung, dan Maha Terpuji. Yang sendiri dengan keesaan-Nya, yang terpuji dengan pujian, yang tidak sampai kepada-Nya sifat-sifat hamba, dan tidak ada kesamaan maupun tandingan bagi-Nya…”.
Beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) membantah dalam khutbahnya kepada Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Raafidhah. Hingga kemudian beliau berkata : Apabila ada seseorang mengatakan jika engkau telah mengingkari/membantah secara lengkap perkataan Mu’tazillah, Qadariyyah, Jahmiyyah, Haruriyyah/Khawarij, Raafidhah, dan Murji’ah; maka beritahukanlah kepada kami tentang perkataan yang menjadi pendapat dan agama bagimu ! Maka katakanlah padanya : ‘Perkataan yang kami katakan dan agama yang kami anut adalah berpegang-teguh kepada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang diriwayatkan dari shahabat, tabi’in, serta para imam ahli-hadits. Kami berpegang teguh terhadap hal itu. Dan juga, dengan agama (pemahaman) yang Ahmad bin Hanbal berada di atasnya – semoga Allah membaguskan wajahnya. Barangsiapa yang menyelisihi perkataannya (Ahmad bin Hanbal) adalah para pembangkang, karena dia adalah seorang imam yang utama dan pemimpin yang sempurna dimana Allah telah memberikan penjelasan kebenaran melalui perantaraannya di saat muncul kesesatan. Melalui perantaraannya, Allah juga telah menjelaskan manhaj yang benar dan membungkam ahlul-bida’. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada imam yang unggul dan agung, serta kepada seluruh imam-imam kaum muslimin.
وجملة قولنا : أن نقر بالله وملائكته وكتبه ورسله، وما جاء من عند الله، وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لا نرد من ذلك شيئا، وأن الله إله واحد فرد صمد، لا إله غيره، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن الجنة والنار حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، وأن الله تعالى مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وأن له وجها كما قال : (ويبقى وجه ربك) وأنه له يدين كما قال : (بل يداه مبسوطتان) وأن له عينين بلا كيف كما قال : (تجري بأعيننا) وأن من زعم أن اسم الله غيره كان ضالا، وندين أن الله يرى بالأبصار يوم القيامة كما يرى القمر ليلة البدر، يراه المؤمنون – إلى أن قال :
وندين بأنه يقلب القلوب، وأن القلوب بين إصبعين من أصابعه، وأنه يضع السموات والأرض على إصبع، كما جاء في الحديث، – إلى أن قال : -
وأنه يقرب من خلقه كيف شاء كما قال : (ونحن أقرب إليه من حبل الوريد) وكما قال : (ثم دنا فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) ونرى مفارقة كل داعية إلى بدعة، ومجانبة أهل الأهواء، وسنحتج لما ذكرناه من قولنا وما بقي [منه] بابا بابا، وشيئا شيئا.
Dan kesimpulan perkataan kami adalah : ‘Kami mengakui Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan apa-apa yang datang dari sisi Allah, serta apa-apa yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqaat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak menolak satupun dari hal tersebut sedikitpun. Dan bahwasannya Allah adalah Tuhan yang Esa, tempat bergantung, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan bahwasannya Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya, surga dan neraka adalah haq (benar), kiamat akan datang tanpa ada keraguan di dalamnya, Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya, Allah ta’ala bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Allah mempunyai wajah, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan tetap kekal wajah Tuhan-Mu’ (QS. Ar-Rahmaan : 27). Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Tetapi kedua tangan Allah terbuka’ (QS. Al-Maaidah : 64). Allah mempunyai dua mata tanpa ditanyakan bagaimananya, sebagaimana firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar : 14). Dan barangsiapa yang berkeyakinan bahwa nama Allah bukanlah Allah, maka ia adalah orang yang sesat. Kami meyakini bahwa Allah kelak akan dilihat dengan penglihatan (mata) pada hari kiamat oleh kaum mukminin sebagaimana dilihatnya bulan di malam purnama”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :
Kami berkeyakinan bahwasannya Allah membolak-balikkan hati, dan hati-hati manusia itu berada di antara dua jari di antara jari-jari Allah. Juga, bahwasannya Allah meletakkan semua langit dan bumi di atas satu jari, sebagaimana tercantum dalam hadits”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :
“Dan bahwasannya Allah itu dekat dengan makhluk-Nya dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat kehernya’ (QS. Qaaf : 16). ‘Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)’ (QS. An-Najm : 8-9). Sedangkan di sisi lain kami melihat jauhnya setiap penyeru bid’ah dan pengikut hawa nafsu (dari agama dan pemahaman yang benar ini). Kami akan berhujjah (berargumentasi) dengan apa yang telah kami sebutkan tadi bab per bab secara rinci”.
Kemudian Ibnu ‘Asakir berkata :
فتأملوا رحمكم الله هذا الإعتقاد ما أوضحه وأبينه، واعترفوا بفضل هذا الإمام الذي شرحه وبينه.
“Maka renungkanlah – semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian – i’tiqad/keyakinan ini. Alangkah terang dan jelasnya keyakinan ini. Dan hendaknya kalian mengakui keutamaan imam ini (yaitu Abul-Hasan Al-Asy’ariy) yang telah menjelaskan dan menerangkannya (kepada kalian semua)”.[10]
8. Telah berkata Al-Haafidh Ibnu ‘Asaakir : “Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy telah berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Imad fir-Ru’yah :
ألفنا كتابا كبيرا في الصفات تكلمنا فيه على أصناف المعتزلة والجهمية، فيه فنون كثيرة من الصفات في إثبات الوجه واليدين، وفي إستوائه على العرش.
كان أبو الحسن أولا معتزليا أخذ عن أبي علي الجبائي، ثم نابذه ورد عليه، وصار متكلما للسنة، ووافق أئمة الحديث في جمهور ما يقولونه، وهو ما سقناه عنه من أنه نقل إجماعهم على ذلك وأنه موافقهم. وكان يتوقد ذكاء، أخذ علم الأثر عن الحافظ زكريا الساجي. وتوفي سنة أربع وعشرين وثلاثمائة، وله أربع وستون سنة رحمه الله تعالى.
“Kami telah menulis satu kitab besar dalam permasalahan sifat-sifat (Allah) dimana kami berbicara dari sudut pandang kelompok Mu’tazillah dan Jahmiyyah. Padanya terdapat berbagai macam pembahasan sifat dalam penetapan wajah dan dua tangan, serta istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy”.[11]
Abul-Hasan Hasan pada mulanya adalah seorang Mu’tazillah yang mengambil pemahaman dari Abu ‘Ali Al-Juba’iy. Kemudian beliau meninggalkannya dan menolaknya serta berpaling menjadi seorang mutakallim (ahli ilmu kalam) Sunah. Para imam ahli hadits menyepakati sebagian besar apa yang dikatakannya. Demikianlah yang kami tuturkan dari beliau, bahwasannya beliau mengutip ijma’ mereka dan setuju dengan pendapat mereka. Beliau adalah orang yang cerdas, mempelajari ilmu atsar (hadits) dari Al-Haafidh Zakariyyah As-Saajiy. Beliau wafat pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun. Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau”.
[selesai]
Scan kitab Al-‘Ulluw oleh Adz-Dzahabi rahimahullah pada halaman dimaksud : http://www.scribd.com/doc/16205688/Kitab-AlUlluw
Scan kitab Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabi oleh Al-Albani rahimahullah pada halaman dimaksud : http://www.scribd.com/doc/16205769/Kitab-Mukhtashar-AlUlluw
Dapat kita lihat dari keterangan di atas bahwa manhaj Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sangat berbeda dengam kaum Asy’ariyyah (Asyaa’irah). Beliau telah menetapkan sifat-sifat Allah ta’ala yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah sebagaimana zhahirnya. Beliau rahimahullah menetapkan sifat istiwaa’, tangan, wajah, turun, dan yang lainnya. Bahkan yang menunjukkan manhaj beliau yang bertolak belakang dengan kaum Asy’ariyyah adalah pengingkaran beliau tentang ta’wil istiwaa’ dengan istilaa’ (menguasai) atau tangan dengan nikmat. Keyakinan ini adalah keyakinan Mu’tazillah dimana beliau dulu pernah berkeyakinan dengannya. Oleh sebab itu, keyakinan/’aqidah kaum Asy’ariyyah yang ada sekarang ini (dimana mereka gemar menta’wilkan sifat-sifat Allah – dan ini diingkari oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy) adalah keyakinan Mu’tazillah yang telah beliau tinggalkan sebelum taubatnya.
Oleh: Abu Al-Jauzaa’ – Perumahan Ciomas Permai, Bogor.
Dicopy dari: abul-jauzaa.blogspot.com
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, kepada orang-orang yang ikhlas mencari kebenaran dan orang-orang yang cinta kepada sunnah Nabi dan benci kepada bid’ah. Dan semoga Allah memberikan ganjaran yang selayaknya kepada Ustadz Abul Jauzaa’ atas ketekunannya menulis artikel untuk membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allahul musta’an.
Wednesday, July 15, 2009
Antara Abu Syafiq & Al-Jahmiyyah: Wujudkah Persamaannya?
Pendidikan Dengan Sains Sosial
Universiti Malaysia Sabah
SMS sahaja: 019-5308036/014-5679652
Apakah al-Jahmiyyah?
Hadis pertama.
"Dimanakah Allah?" Hamba itu menjawab: "Di atas langit". Baginda bertanya lagi: "Siapakah saya?" Hamba itu menjawab: "Anda Rasulullah". Maka bersabda baginda: "Bebaskanlah dia kerana sesungguhnya dia adalah seorang yang beriman" [Hadis riwayat Muslim dalam Shahih Muslim – hadis no: 537]
Ketika mengomentari hadis tersebut, Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:
Sehubungan dengan ini, Imam Utsman ad-Darimi rahimahullah berkata:
Hadis kedua.
Dari Abu Hurairah bahawasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Berhubung dengan hadis di atas, Imam 'Utsman bin Sa'id ad-Darimi rahimahullah berkata:
Dalam keterangannya yang lain, Syakhul Islam menjelaskan:
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
Berkata Imam Ibn Khuzaimah rahimahullah dari kalangan ulamak asy-Syafi'iyah:
Imam al-Auza'i rahimahullah yang dianggap Imam ahli Syam di zamannya. Beliau menegaskan:
Berkata Imam Abu Hanifah rahimahullah:
Berkata Imam Malik rahimahullah:
Berkata Imam asy-Syafi'e rahimahullah:
Ibn Abi Hatim meriwayatkan daripada Yunus Ibn 'Abd Al-'Ala, katanya :
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
Atsar Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah menjelaskan:
Atsar Syaikhul Islam Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menjelaskan:
Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari rahimahullah:
Penutup.
Imam adz-Dzahabi rahimahullah telah berkata:
Berkata Syaikh Abu Nashr al-Sijzi rahimahullah dalam kitabnya al-Ibanah:
Thursday, February 26, 2009
Ustaz Rasul Dahri VS Ahbash
Saturday, November 8, 2008
KHAWARIJ MODEN
Khawarij Moden[1]
Pendahuluan
Berdasarkan nas-nas syarac dan fakta-fakta sejarah, Khawarij dianggap sebagai kumpulan sesat yang terkeluar daripada kelompok Ahli Sunnah Wa Al-Jamaah disebabkan ideologi dan tindakan mereka yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenar. Meskipun pada zahirnya mereka nampak sangat beriltizam dengan ajaran agama, namun hakikatnya mereka telah terkeluar dari Islam melalui lidah Nabi s.a.w. sendiri. Bahkan baginda menyatakan kesungguhan untuk memerangi dan menghapuskan mereka seluruhnya serta menjanjikan ganjaran pahala yang besar di sisi Allah S.W.T bagi sesiapa yang memerangi mereka
[1] Kertas dibentangkan dalam Daurah Ta’lim Sunnah Siri II, anjuran INTIS Consultant & Training di Surau al-Muhajirin, Taman Sri Ukay, Kuala Lumpur pada 20 September 2008.
Juga edisi PDF di sini
. Ulama firaq telah menggunakan beberapa istilah tertentu seperti al-Muhakkimah[2], ash-Shurah[3], al-Haruriyyah[4], al-Harariyyah[5], an-Nawasib[6] dan al-Mariqah[7] sebagai gelaran bagi puak khawarij yang memang ada signifikasinya tersendiri[8]. Gelaran khawarij moden bukan dilihat dari segi persamaan nama dan gelaran, kerana dalam konteks semasa tiada sesiapa lagi yang memakai gelaran-gelaran khawarij lampau. Tetapi apa yang dilihat sebenarnya ialah persamaan ideologi dan ciri antara kelompok-kelompok umat Islam semasa dengan puak khawarij terdahulu. Justeru, untuk mengetahui kelompok manakah yang menyamai puak khawarij serta layak untuk ‘ditabalkan’ sebagai khawarij moden, maka perlu difahami terlebih dahulu apakah definisi, ideologi dan ciri golongan khawarij itu.
Definisi
Perkataan khawarij dari segi bahasa adalah kata jamak bagi kharij, bermaksud ‘yang keluar’, manakala dari segi istilah ia ditakrifkan sebagai: golongan yang melucutkan ketaatan dan mengisytiharkan penentangan terhadap khalifah yang sah[9]. Dari segi sejarah, nama khawarij dikhususkan kepada kumpulan terawal yang melucutkan ketaatan terhadap Khalifah cAli Ibn Abi Talib r.a[10]. Para fuqaha Islam menamakan golongan penentang khalifah yang ada kekuatan pengikut sebagai bughah[11]. cAbd Al-Qahir al-Baghdadi (M 429 H) membahagikan mereka kepada 20 puak [12], namun, secara umumnya hanya enam puak sahaja yang dilihat sebagai puak utama, iaitu: al-Muhakkimah al-Ula, al-Azariqah, an-Najdat, as-Sufriyyah, al-cAjaridah, al-Ibadiyyah dan ath-Thacalibah, daripada enam puak inilah terpecahnya pelbagai cabang puak khawarij yang lain[13].
Hadith Berkenaan Khawarij
Golongan khawarij diberi perhatian serius dalam pengajian aqidah Islam kerana banyak hadith Nabi s.a.w. yang berstatus mutawatir telah mengisyaratkan tentang ancaman dan bahaya kesesatan mereka. Boleh dikatakan semua pembuku hadith ada meriwayatkan hadith tentang mereka, cuma yang berbeza hanyalah pada panjang pendeknya. Kata Abu Sacid al-Khudriyy r.a.:
بعث علي رضي الله عنه وهو ظاهرا من اليمن بذهبة في أديم مقروظ لم تحصل من ترابها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العامري وزيد الخير الطائي، فغضبت قريش فقالوا أيعطي صناديد نجد ويدعنا كنا نحن أحق بهذا من هؤلاء. فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء يأتيني خبر السماء صباحا ومساء إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم. فقام رجل من بني تميم ذو الخويصرة كث اللحية مشرف الوجنتين غائر العينين ناتىء الجبين محلوق الرأس مشمر الإزار فقال اتق الله يا محمد! فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ويلك أو لست أحق أهل الأرض أن يتقي الله فمن يطع الله إن عصيته أيأمنني على أهل الأرض ولا تأمنوني ومن يعدل إن لم أعدل قد خبت وخسرت إن لم أعدل؟ ثم أدبر الرجل فقال عمر بن الخطاب (أو خالد بن الوليد): يا رسول الله ألا أضرب عنقه؟ فقال: لا لعله أن يكون يصلي، معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي. قال: وكم من مصل يقول بلسانه ما ليس في قلبه. فقال: إني لم أومر أن أنقب عن قلوب الناس ولا أشق بطونهم. ثم نظر إليه وهو مقف فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنه يخرج من ضئضيء هذا قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية ليس قراءتكم إلى قراءتهم بشيء ولا صلاتكم إلى صلاتهم بشيء ولا صيامكم إلى صيامهم بشيء تحقرون صلاتكم مع صلاتهم يقرأون القرآن يحسبون أنه لهم وهو عليهم يقرأون القرآن لينا رطبا لا يجاوز حناجرهم يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية ينظر إلى نصله ورصافه ونضِيّه وقُذذه فلا يوجد فيه شيء، سبَق الفرْثَ والدّمَ، لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجرا لمن قتلهم عند الله يوم القيامة، آية ذلك فيهم رجل أسود مـُخْدَج اليد ليس له ذراع على رأس عضده مثل ثدي المرأة أو مثل البضعة تدردر عليه شعرات بيض، سيماهم التحليق هم من شر الخلق يقتلهم أدنى الطائفتين إلى الحق، يخرجون على حين فرقة من الناس. قال علي: لو لا أن تَبْطَروا لحدّثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد صلى الله عليه وسلم. قال أبو سعيد: فأشهد أني سمعت هذا من رسول الله صلى الله عليه وسلم وأشهد أن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قاتلهم وأنا معه فأمر بذلك الرجل فالتمس فوجد فأتي به حتى نظرت إليه على نعت رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي نعت".
Maksudnya: “cAli r.a. telah menghantar ketulan emas yang belum dibersihkan dari tanah, hasil kemenanganya dari Yaman kepada Rasulullah s.a.w. lalu baginda membahagikannya kepada al-Aqrac Ibn Habis al-Hanzaliyy, cUyainah Ibn Badr al-Fazariyy, cAlqamah Ibn cUlathah al-cAmiriyy dan Zaid at-Taiyy. Tetapi pembahagian itu telah membangkitkan kemarahan Quraisy kerana mereka menganggap baginda s.a.w. lebih mengutamakan pembesar-pembesar Najd daripada mereka. Mengetahui hal itu, Baginda s.a.w. menegur mereka: “Kenapa kamu tidak mempercayai kejujuranku, sedangkan aku adalah pemegang amanah (agama) bagi pihak langit, wahyu datang kepadaku pagi dan petang, sesungguhnya hanya sanya aku lakukan itu untuk menjinakkan (hati) mereka. Tiba-tiba bangun seorang lelaki dari Bani Tamim yang dikenali sebagai Zu al-Khuwaisirah, berjanggut lebat, bertulang pipi tinggi, bermata dalam, berdahi nonjol, berkepala botak, berkain singkat, seraya berkata: “Bertaqwalah kamu kepada Allah wahai Muhammad!’. Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: “Celakalah kamu! Bukankah aku orang yang paling berhak untuk bertaqwa? Siapakah lagi yang taat kepada Allah jika aku menderhakaiNya? Kenapa Dia boleh mempercayaiku atas sekelian penduduk bumi sedangkan kamu tidak percaya kepadaku, siapakah lagi yang adil jika aku tidak adil, sesungguhnya rugilah aku jika aku tidak berlaku adil? Kemudian lelaki itupun beredar dan Umar (atau Khalid Ibn al-Walid) r.a. berkata: “Izinkan aku memenggal lehernya”. Baginda s.a.w. menjawab: “Jangan, boleh jadi dia bersolat, minta dilindungi Allah daripada orang bercakap-cakap bahawa aku telah membunuh sahabatku, biarkan dia kerana dia ada pengikut”. Umar (atau Khalid Ibn al-Walid) r.a. berkata: “Berapa ramai orang bersolat tetapi dia bercakap apa yang tidak dicakap oleh hatinya? Baginda s.a.w. menjawab: “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk membelah perut manusia dan menebuk hati mereka. Kemudian baginda s.a.w. memandang kepada lelaki yang sedang beredar itu seraya bersabda; “Sesungguhnya akan lahir dari keturunan lelaki ini golongan yang berumur muda dan berakal pendek, mereka bercakap dengan percakapan yang baik (pada zahirnya), bacaan quran, solat dan puasa kamu tidak setanding bacaan, solat dan puasa mereka, kamu akan rasa solat kamu lekeh berbanding solat mereka, mereka sangka quran yang mereka baca adalah hujah untuk mereka tetapi sebaliknya ia adalah hujah ke atas mereka, mereka membaca quran dengan lunak tetapi ia tidak melepasi halqum mereka, mereka memerangi orang Islam tetapi membiarkan saja para penyembah berhala, mereka terkeluar dari Islam sebagaimana anak panah menembusi sasarannya, dilihat pada mata panah, pengikat mata panah, kayu panah dan sirip panah tiada sebarang kesan darah dan bulunya, sekiranya aku sempat bertemu mereka nescaya aku akan perangi mereka seperti kaum cAd, sekiranya kamu bertemu mereka maka perangilah mereka kerana memerangi mereka menjanjikan ganjaran pahala yang besar di sisi Allah S.W.T. pada Hari Kiamat. Petanda hal itu ialah di kalangan mereka ada seorang lelaki hitam bertangan pendek tanpa lengan, di hujung labu lengannya terdapat lebihan daging seperti payu dara perempuan yang ada beberapa helai bulu putih dan bergerak-gerak. Tanda pengenalan mereka ialah at-tahliq (bercukur kepala)[14], mereka adalah sejahat-jahat makhluk, mereka akan diperangi oleh salah satu daripada dua kumpulan yang lebih dekat kepada kebenaran. Mereka keluar (menentang khalifah) ketika orang ramai dalam keadaan berpecah belah”. Kata cAli r.a: “Jika tidak kerana bimbangkan kamu mengurangkan amalan, nescaya aku akan beritahu apa (ganjaran) yang Allah telah janjikan untuk orang yang memerangi mereka melalui lidah Nabi Muhammad s.a.w.”. Kata Abu Sa’id r.a: “Aku bersaksi bahawa sesungguhnya aku mendengar (hadith) ini daripada Rasulullah s.a.w. dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya aku bersama (Khalifah) cAli Ibn Abi Talib r.a. telah membunuh mereka, lalu beliau perintahkan agar dicari (mayat) lelaki tersebut sehingga ia djumpai dan dibawa kepadanya, sesungguhnya aku telah melihat tanda-tandanya betul sebagaimana yang telah disifatkan oleh Rasulullah s.a.w.”[15].
Ideologi Dan Ciri Khawarij
Hadith di atas mengandungi banyak penjelasan tentang tanda dan sifat puak khawarij. Maka itu Imam Muslim meletakkannya di bawah beberapa judul bab, antaranya bab berjudul: “Bab pada menyatakan (ciri-ciri) Khawarij dan sifat-sifat mereka”[16]. Namun, sebahagian daripada ciri-ciri itu adalah tanda-tanda fizikal khusus bagi puak khawarij yang muncul di zaman para Sahabat r.a. Tanda-tanda seperti berkepala botak, berkulit hitam, bertangan pendek, berjanggut lebat, bertulang pipi tinggi, bermata dalam, berdahi nonjol dan berkain singkat tidak boleh dijadikan ukuran dan tidak boleh dipantulkan ke atas mana-mana individu atau golongan pada hari ini. Justeru, kertas ini akan fokus kepada beberapa ciri umum yang menunjukkan persamaan dan perkaitan antara golongan khawarij lama dan khawarij moden. Ciri-ciri tersebut ialah:
1. Suka Bertakalluf.
Takalluf bermaksud menimbulkan persoalan yang tidak perlu atau buat perkara yang susah atau memikul beban yang tidak biasa dipikul[17]. Allah S.W.T berfirman (maksudnya): "Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak meminta daripada mu sebarang bayaran kerana menyampaikan ajaran Al-Quran ini, dan bukanlah aku dari golongan yang bertakalluf"[18]. Seorang lelaki bertanya cUmar Ibn Al-Khattab r.a. maksud perkataan abba yang terkandung dalam ayat 31 surah cAbasa, tetapi cUmar tidak melayan persoalan lelaki itu, sebaliknya beliau menjawab: “Kami dilarang daripada bertakalluf ”[19]. Para Sahabat r.a. sedia memahami maksud perkataan abba itu sebagai sejenis tumbuhan yang terdapat dalam Syurga. Meskipun mereka tidak tahu jenis dan bentuknya secara terperinci, namun kefahaman itu sudah memadai untuk memberi keyakinan terhadap Hari Akhirat dan nicmat Syurga. Justeru, mereka menahan diri daripada menyoal Nabi s.a.w. mengenai perinciannya kerana pertanyaan seumpama itu termasuk dalam ertikata takalluf yang dilarang syarac. Imam Al-Bukhari (M 256 H) ketika meriwayatkan hadith ini, meletakkannya di bawah bab berjudul:
"Bab: (Pada menyatakan) perkara yang makruh (dibenci), seperti banyak bersoal dan takalluf dengan persoalan yang tidak berfaedah serta (pada menyatakan) firman Allah S.W.T. yang bermaksud: "Jangan kamu bertanya tentang sesuatu yang jika diberitahu ia akan menyusahkan kamu"[20].
Berdasarkan judul bab Bukhari ini, dapat disimpulkan bahawa persoalan berlebihan tanpa faedah yang bersifat memaksa dan menyiksa adalah sebahagian daripada ciri-ciri takalluf yang dilarang oleh syarac. Dalam hadith lain, Al-Mughirah Ibn Syucbah r.a, berkata: "Sesungguhnya baginda s.a.w. melarang daripada bercakap begitu begini, juga daripada banyak bersoal (perkara tidak perlu)"[21]. Menjelaskan maksud hadith ini, Al-Hafiz Ibn Hajar Al-cAsqalani (M 852 H) berkata: “Oleh itu, sekumpulan ulama salaf tidak suka mempersoalkan perkara yang tidak berlaku kerana ia mengandungi maksud takalluf dan melampau serta melontar andaian tanpa keperluan dalam perkara agama”[22].
Islam jelas melarang umatnya daripada mempersoal dan mengandaikan perkara agama sehingga melebihi dan bercanggah dengan kehendak nas. Apatah lagi jika persoalan dan andaian itu hanya akan menambahkan beban kesusahan. Malangnya, perkara seperti inilah yang sangat digemari oleh golongan Khawarij sehingga ia menjadi faktor utama yang menyesatkan mereka. Lihatlah bagaimana mereka mempersoalkan pembahagian harta yang dibuat oleh Nabi s.a.w., meskipun baginda telah memberikan alasan yang begitu lojik dan islamik, namun mereka tetap mempertikaikannya. Kemudian mereka pertikaikan pula segala pendapat dan ijtihad para Khalifah Islam sehingga akhirnya mereka sanggup mengkafir, memerangi dan membunuh para Sahabat r.a. Semua itu adalah kerana sikap mereka yang suka bertakalluf dalam perkara agama. Dalam sebuah hadith, seorang perempuan bernama Ma’azah berkata:
“Aku bertanya Aishah r.a. kenapa wanita haid wajib qada (ganti) puasa tetapi tak perlu ganti solat”? Lalu beliau bertanyaku: “Adakah kamu seorang haruriyyah”? Aku menjawab: “Aku bukan dari golongan haruriyyah cuma saja aku nak tanya”. Lalu beliau menjawab: “Kami datang haid (pada zaman Nabi s.a.w.) lalu kami disuruh supaya qada puasa dan kami tidak disuruh supaya qada solat”[23].
Aishah r.a. bertanya Ma’azah tentang kecenderungan mazhabnya kerana persoalannya itu mengandungi unsur takalluf yang telah menyesatkan puak khawarij. Para Sahabat di zaman Nabi s.a.w. menerima syariat seumpama itu dengan mudah tanpa mempersoalkannya, sehingga muncullah puak khawarij yang mempersoalkannya. Lalu mereka mewajibkan perempuan haid qada solat sebagaimana qada puasa, bahkan ada yang mewajibkan kedua-dua solat dan puasa ke atas perempuan haid.
2. Menolak Konsep Taysir.
Islam adalah agama yang menekankan prinsip at-taysir (memudah dan meringankan) sebagai salah satu dasar utamanya. Nabi s.a.w bersabda (maksudnya):
“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah, tiada sesiapa yang menjadikan agama ini susah melainkan dia akan tewas. Maka hendaklah kamu perbetulkan, dekatkan, gembirakan dan mohonlah pertolongan (gunalah kesempatan) daripada perjalanan pada waktu pagi dan petang serta sedikit daripada perjalanan pada waktu awal malam”[24].
Dalam sebuah hadith lain, ketika Nabi s.a.w. mengutuskan Mucaz Ibn Jabal r.a. dan Abu Musa Al-Asycari r.a. ke Yaman, baginda berpesan kepada kedua-duanya: “Hendaklah kamu berdua permudahkan jangan menyusahkan, gembirakan jangan menakutkan, hendaklah saling bekerjasama dan jangan berbeza pendapat”[25]. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadith ini di bawah beberapa judul bab yang berbeza dalam kitab Sahihnya, antaranya di bawah bab berjudul: “Bab: (Pada menyatakan) sabda Nabi s.a.w: “Hendaklah kamu permudahkan jangan menyusahkan”, kerana sesungguhnya Baginda sukakan peringanan dan kemudahan untuk manusia”[26]. Disebabkan kejahilan mereka tentang sunnah, maka mereka pesimis terhadap sunnah-sunnah yang bersifat taysir, lalu mereka pertikai dan menolaknya. Dalam hal ini, Al-Azraq Ibn Qais meriwayatkan:
كنا على شاطئ نهر بالأهواز نقاتل الحرورية فجاء أبو برزة الأسلمي على فرس فصلى وخلى فرسه فانطلقت الفرس فترك صلاته وتبعها حتى أدركها فأخذها ثم جاء فقضى صلاته فجعل رجل من الخوارج يقول: اللهم افعل بهذا الشيخ ترك صلاته من أجل فرس، فأقبل فقال إني سمعت قولكم، ما عنفني أحد منذ فارقت رسول الله صلى الله عليه وسلم وإني غزوت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ست غزوات أو سبع غزوات وثمان وشهدت تيسيره وإني إن كنت أن أراجع مع دابتي أحب إلي من أن أدعها ترجع إلى مألفها فيشق علي إن منـزلي متراخ فلو صليت وتركت لم آت أهلي إلى الليل.
Maksudnya: “Kami sedang berada di tebing sungai Ahwaz (di Iraq) untuk memerangi puak Haruriyyah, tiba-tiba Abu Barzah Al-Aslamiyy datang menunggang kuda lalu bersolat sambil melepaskan (tali) kudanya. Tiba-tiba kuda itu meninggalkannya lantas beliau menghentikan solat dan mengejarnya sehingga dapat. Kemudian, beliau datang semula untuk menunaikan solatnya. Seorang lelaki khawarij berkata: “Ya Allah! binasakanlah orang ini, dia telah meninggalkan solatnya kerana seekor kuda”. Abu Barzah tampil seraya berkata: Sesungguhnya aku dengar kata-kata kamu, semenjak Rasulullah s.a.w. wafat tiada seorang pun yang bercakap kasar denganku, sesungguhnya aku pernah menyertai enam hingga lapan peperangan bersama Rasulullah s.a.w. dan aku telah menyaksikan (pendekatan) taysir baginda (dalam ibadat), sesungguhnya aku lebih suka pulang bersama binatang tungganganku daripada membiarkannya kembali ke tempatnya sehingga menyusahkanku, sesungguhnya jarak rumahku jauh, jika aku solat dan biarkan nescaya aku tak dapat kembali kepada keluargaku sampai ke malam”[27].
Hadith ini jelas menunjukkan bahawa golongan khawarij tidak menerima kemudahan bergerak dalam solat untuk tujuan yang mustahak, meskipun ia menepati sunnah Nabi s.a.w. dan menepati konsep taysir yang menjadi dasar penting dalam ajaran Islam.
3. Berpegang Dengan Falsafah ‘Bidah Hasanah’.
Dalam sebuah athar[28] sahih riwayat ad-Darimi, Abu Musa Al-Asycari r.a. memberitahu Ibn Mascud r.a. bahawa beliau melihat di masjid sekumpulan lelaki sedang duduk dalam halaqah-halaqah (bulatan) zikir untuk bertakbir, bertahlil dan bertasbih dengan menggunakan biji-biji batu mengikut cara yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan juga para Sahabat r.a.. Mendengar yang demikian itu, Ibn Mascud menuju ke masjid itu lantas menegur mereka dengan katanya:
“Hitunglah amalan buruk kamu itu kerana aku jamin bahawa amalan baik kamu tidak akan hilang sedikitpun. Celakalah kamu wahai umat (Nabi) Muhammad! Alangkah cepatnya kebinasaan kamu, para Sahabat Nabi s.a.w. masih ramai, baju baginda inipun masih belum hancur dan bekas makanannya pun belum pecah. Demi yang nyawaku di TanganNya! Adakah sesungguhnya kamu berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kamu sebenarnya pembuka pintu kesesatan?”.
Mendengar kata-kata Ibn Mascud itu, mereka menjawab: “Demi Allah! wahai Abu cAbd Ar-Rahman[29]! Tujuan kami hanya untuk kebaikan”. Mendengar jawapan mereka itu, lalu Ibn Mascud berkata: “Berapa ramai orang yang bertujuan baik tetapi tidak kena (caranya). Sesungguhnya Rasulullah SAW memberitahu kami: “Bahawa ada satu kaum yang membaca al-Quran tidak melebihi kerongkong mereka”[30]. Demi Allah! Aku tak tahu boleh jadi kebanyakan mereka itu adalah dari kalangan kamu”. Menjelaskan kata-kata Ibn Mascud ini, cAmr Ibn Salamah[31] berkata (maksudnya): “Kami melihat semua lelaki yang berada dalam halaqah itu menyertai puak Khawarij lalu menyerang kami pada hari peperangan An-Nahrawan” [32].
Athar ini menunjukkan bahawa amalan berzikir dalam halaqah beramai-ramai adalah amalan bidcah puak Khawarij yang memerangi para Sahabat r.a. dalam peperangan an-Nahrawan. Manakala jawapan yang mereka berikan kepada Ibn Mascud r.a. itu pula menunjukkan bahawa mereka membela amalan bidah mereka dengan falsafah ‘bidah hasanah’.
4. Membalut Kebatilan Dengan Kebenaran.
Telah disebutkan sebelum ini bahawa puak khawarij dikenali dengan beberapa gelaran seperti al-Muhakkimah dan asy-Syurah yang menggambarkan seolah-olah mereka berada di atas landasan kebenaran. Gelaran al-Muhakkimah misalnya diberi kerana slogan yang sering mereka laungkan ialah ‘tiada hukum melainkan bagi Allah’, kononnya mereka hanya berhukum dengan hukum Allah sebagaimana firmanNya yang bermaksud; “Hanya Allah jualah yang menetapkan hukum, Dia menerangkan kebenaran, dan Dialah sebaik-baik yang memberi keputusan"[33]. Begitu juga dengan gelaran asy-Syurah kerana mereka mendakwa kononnya mereka menjual diri mereka kepada Allah, sanggup berkorban nyawa keranaNya, sebagaimana firmanNya yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah membeli nyawa dan harta orang beriman dengan balasan syurga (kerana) mereka berperang pada jalan Allah…”[34].
Tidak dinafikan bahawa gelaran yang mereka pakai itu mengandungi maksud yang baik dari segi bahasanya, manakala slogan yang mereka laung-langkan itu juga adalah slogan yang benar pada asalnya. Namun, hakikatnya semua itu hanyalah gimik yang bertujuan untuk mengaburi kebatilan yang mereka lakukan terhadap khalifah dan umat Islam. Sebagaimana sabda Nabi s.a.w. (maksudnya): “…Mereka bercakap dengan percakapan yang baik (pada zahirnya)…”. Menjelaskan hal ini cAli Ibn Abi Talib r.a. berkata: “Perkataan benar yang bertujuan batil (jahat)”[35].
5. Membaca Quran Tanpa Penghayatan Dan Keikhlasan.
Sabda Nabi s.aw (maksudnya): “…Mereka membaca al-Quran dengan lunak tetapi ia tidak melepasi halqum mereka…”. Menjelaskan maksud sabda ini, Imam an-Nawawi memetik kata-kata al-Qadi cIyad bahawa ia membawa dua pengertian, pertama: hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak mendapat manfaat daripada bacaan mereka dan kedua: segala amalan dan bacaan mereka tidak diangkat dan tidak diterima[36]. Imam al-Bukhari meriwayatkan hadith-hadith berkenaan Khawarij ini di bawah beberapa judul bab, antaranya: “Bab (pada menyatakan): dosa orang yang membaca al-Quran untuk riya’, mencari makan dengannya atau berbangga dengannya”[37] dan “Bab (pada menyatakan): bacaan orang jahat dan munafiq serta suara mereka dan bacaan mereka tidak melepasi halqum mereka”[38].
6. Mengkafir Dan Memerangi Umat Islam.
Sabda Nabi s.a.w. (maksudnya): “…Mereka memerangi orang Islam tetapi membiarkan saja para penyembah berhala”. Ibn Umar r.a. mengangap mereka sebagai sejahat-jahat makhluk dan beliau (Ibn Umar) berkata: “Mereka mencari ayat-ayat al-Quran yang ditujukan kepada orang kafir tetapi mereka tujukannya kepada orang beriman”[39]. Al-Qadi Abu Bakr Ibn al-Arabi membahagikan puak khawarij kepada dua kumpulan: Pertama, kumpulan yang mengkafirkan semua para Sahabat r.a. yang terlibat dalam perang Jamal, Siffin dan yang reda dengan Majlis Tahkim. Kedua, kumpulan yang mengkafirkan sesiapa saja yang melakukan dosa besar[40]. Manakala al-Hafiz Ibn Hajar menegaskan bahawa puak an-Najdah menambah pegangan takfir khawarij kepada sesiapa saja yang tidak keluar memerangi orang Islam, meskipun orang itu berpegang dengan aqidah mereka”[41].
7. Penyelewengan Aqidah
Imam Abu Hasan al-Ashcariyy (M 330 H) menegaskan bahawa pegangan tauhid Khawarij sama dengan pegangan Muktazilah dan mereka sepakat menganggap al-Quran sebagai makhluk (bukan Kalam Allah)[42]. Kemudian al-Ashcariyy huraikan pegangan tauhid Muktazilah yang berkisar pada konsep tactil dan takwil, seperti mentakwilkan sifat istiwa’(meninggi) dengan maksud istaula (memerintah) dan mengatakan Allah berada di mana-mana tempat[43]. Puak Khawarij mempunyai titik kesepakatan dari segi mengkafirkan Khalifah cUthman Ibn cAffan dan cAli Ibn Abi Talib r.a. serta semua yang terlibat dalam Perang Jamal, Siffin dan Majlis Tahkim. Sebagaimana mereka juga sepakat berpegang kepada hukum wajib melucut, memerangi dan membunuh pemimpin yang jahat meskipun kejahatan itu hanya pada kacamata mereka sahaja[44].
Pendapat Khawarij Yang Bercanggah
Selain daripada ciri-ciri di atas, puak-puak khawarij juga berpegang dengan pelbagai pendapat yang menyalahi pendapat Ahli Sunnah Wa Al-Jamaah dan saling bercanggah hatta di kalangan mereka sendiri. Antara pendapat mereka yang dilihat sebagai salah dan bercanggah itu ialah[45]:
1. Segala perbuatan hamba mengikut kehendak Allah semata-mata.
2. Menolak ijtihad dan berpegang dengan zahir al-Quran.
3. Menolak taklif sebelum diutus Rasul.
4. Menolak adanya azab kubur.
5. Harus tiada khalifah bagi umat Islam kerana mereka tidak perlu kepadanya.
6. Harus membunuh kanak-kanak dan wanita pihak yang menyalahi mereka.
7. Pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal dalam neraka.
8. Tidak sah berkahwin dengan orang yang tidak mengkafirkan cUthman dan cAli r.a.
9. Semua orang yang menyalahi mereka adalah kafir atau musyrik.
10. Orang yang tidak berhijrah kepada mereka adalah musyrik.
11. Wajib menguji kesetiaan orang yang berhijrah kepada mereka dengan cara menyuruh orang itu membunuh tawanan. Jika tidak sanggup bermakna munafiq dan mereka akan membunuhnya.
12. Anak-anak orang yang menyalahi mereka adalah kekal dalam Neraka.
13. Menganggap negeri orang yang menyalahi mereka sebagai negeri kafir.
14. Menggugurkan hukum rejam ke atas penzina yang sudah beristeri.
15. Mengharuskan kekufuran para Nabi a.s. sebelum dan selepas mereka dilantik menjadi nabi.
16. Memotong tangan pencuri sampai ke bahu.
17. Wajib solat dan puasa ke atas perempuan haid.
18. Wajib qada solat ke atas perempuan haid sebagaimana qada puasa.
19. Mendakwa ayat 204 surah al-Baqarah khusus untuk Ali r.a.
20. Mendakwa ayat 207 surah al-Baqarah sebagai khusus untuk cAbd ar-Rahman Ibn Muljim (pembunuh Ali r.a.).
21. Penyokong mereka tidak akan masuk neraka Jahannam, jika berdosa mereka akan diazab dengan azab selain neraka Jahannam.
22. Sebahagian mereka menggugurkan hukum hudud bagi peminum arak, manakala sebahagian yang lain pula mengenakan hukuman yang sangat berat.
23. Melakukan dosa kecil secara berterusan adalah suatu kesyirikan bagi yang tidak menyokong mereka, tetapi bagi para penyokong mereka ia tidak pula dianggap syirik meskipun melakukan dosa besar.
24. Mengharuskan at-taqiyyah.
25. Harus melantik wanita sebagai Khalifah Agung.
26. Harus berkahwin dengan anak perempuan cucu lelaki (cicik) dan anak perempuan anak saudara lelaki.
27. Sifat munafik itu hanya khusus bagi golongan yang disebutkan dalam al-Quran.
Antara Ahbash Dan Khawarij
Puak Ahbash[46] pimpinan Abdullah al-Harari al-Habsyi yang muncul dan berpusat di Lubnan dilihat antara kelompok semasa yang paling banyak mempunyai persamaan dengan ciri-ciri puak Khawarij. Persamaan itu dilihat dari beberapa aspek, antaranya:
1. Kemunculan puak Ahbash di Lubnan ketika negara itu berada dalam konflik perang saudara sama seperti puak Khawarij dahulu yang muncul ketika umat Islam berpecah belah. Nabi s.a.w. bersabda (maksudnya): “Mereka keluar (menentang khalifah) ketika orang ramai dalam keadaan berpecah belah”. Sebagaimana puak Khawarij mengambil kesempatan untuk menyebarkan kesesatan mereka ketika keadaan umat Islam di zaman khalifah Ali r.a. berpecah belah, maka demikianlah juga puak Ahbash mengambil peluang untuk menyebarkan kesesatan mereka ketika Negara Lubnan berada dalam keadaan huru-hara akibat perang saudara.
2. Mengaburi masyarakat dengan slogan dan gelaran indah, seperti gelaran ahli sunnah wa al-jamaah bagi puak mereka, gelaran al-allamah al-muhaddith (ulama hadith) bagi guru mereka al-Harari dan gelaran samahah asy-shiekh (gelaran mufti) bagi tokoh mereka yang bernama Nizar al-Halabi. Mereka juga mengaburi para pelajar Islam yang belajar di luar Negara seperti di Switzerland dengan dakwaan kononnya mereka adalah wakil Universiti al-Azhar Mesir.
3. Mengeluarkan fatwa-fatwa yang bercanggah dengan nas dan pendapat ulama muktabar, seperti boleh melihat, bercampur dan bersalam dengan wanita bukan mahram, boleh bertabarruj dan memakai wangi-wangian bagi wanita yang keluar rumah tanpa izin suami, boleh makan riba dan boleh bersolat dengan pakaian bernajis.
4. Mengatakan al-Quran itu adalah lafaz Jibril bukan Kalam Allah S.W.T.
5. Menafi atau mentakwil nas-nas Sifat Allah S.W.T.
6. Beriktiqad bahawa segala perbuatan hamba adalah mengikut kehendak Allah semata-mata.
7. Mengamal dan menggalakkan bidah seperti memohon hajat pertolongan di kubur, amalan tasauf sesat dan sambutan maulid.
8. Mencela para Sahabat r.a. terutamanya Muawiyah, Khalid Ibn al-Walid dan Aisyah r.a.
9. Mengkafir dan memerangi para ulama yang tidak sehaluan dengan mereka seperti Sheikh Islam Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Imam az-Zahabi, Muhammad Abdul Wahab, Nasiruddin Albani, Sayyid Sabiq, Sayyid Qutb, Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Muhammad al-Ghazali, Yusuf al-Qaradawi, Muhammad Said Ramadan al-Buti dan lain-lain. Mereka juga telah mengkafir dan memerangi para ulama Lubnan seperti Sheikh Subhi Saleh dan Faisal Maulawi sehingga ramai yang terpaksa melarikan diri ke Mesir dan Arab Saudi. Bahkan mereka telah mengkafir dan membunuh Mufti Lubnan yang bernama Hassan Khalid.
Kesimpulan
Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahawa sesiapa sahaja hari ini yang mempunyai ciri dan sifat seperti khawarij, maka dialah yang layak untuk digelar khawarij moden. Demikian juga sebarang perkumpulan yang memiliki dasar dan pegangan yang sama dengan dasar dan pegangan khawarij, maka merekalah yang layak untuk digelar puak khawarij moden. Semakin banyak aspek persamaan, maka semakin dekatlah mereka dengan golongan tersebut. Meskipun mereka juga menyatakan kebencian terhadap Ibn al-Kawwa’, Ibn Muljim atau tokoh-tokoh khawarij lain dan meskipun mereka tidak pernah mengaku mereka khawarij, namun jika ideologi dan cirinya sama, maka mereka tetap khawarij. Ya, mereka adalah khawarij dari segi amalan dan pegangan, meskipun mereka bukan khawarij dari segi nama. Nama khawarij tentu tidak wujud pada mana-mana jamaah pada hari ini, kerana tiada sesiapa pun yang begitu bodoh untuk memakai nama kumpulan yang telah disepakati sebagai sesat. Tetapi amalan dan pegangan khawarij mungkin wujud sama ada dalam konteks individu atau kumpulan. Justeru, kertas ini mengajak sekelian kita supaya bermuhasabah agar kita dapat menjauhkan diri, keluarga dan masyarakat daripada terpalit dengan sebarang ciri dan ideologi khawarij yang sesat dan menyesatkan itu.
[1] Kertas dibentangkan dalam Daurah Ta’lim Sunnah Siri II, anjuran INTIS Consultant & Training di Surau al-Muhajirin, Taman Sri Ukay, Kuala Lumpur pada 20 September 2008.
[2] Bermaksud: Orang yang berhukum, kerana mereka mendakwa berhukum kepada Allah S.W.T.
[3] Bermaksud: Orang yang menjual, kerana mereka mendakwa menjual nyawa kepada Allah S.W.T.
[4] Nisbah kepada perkampungan al-Harura’ di Iraq yang menjadi tempat perkumpulan mereka.
[5] Nama ini tersebut dalam kitab Maqalat al-Islamiyyin Wa al-Ikhtilaf al-Musallin.
[6] Kata jama’ bagi an-Nasib yang bermaksud: Orang yang sangat kuat penentangannya.
[7] Bermaksud: Orang yang keluar.
[8] Al-Ashcariyy, Abu al-Hasan cAli Ibn Ismacil (M 330 H), Maqalat al-Islamiyyin Wa al-Ikhtilaf al-Musallin, Maktabah an-Nahdah al-Misriyyah, Kaherah, Mesir, 1969, 1: 206. cAbd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Al-Adyan Wa al-Firaq Wa Al-Mazahib Al-Mucasarah, Universiti Islam Madinah, Arab Saudi, t.th, hal: 103.
[9] Muhammad Muhyiddin Abd al-Hamid, Hasyiah Maqalat al-Islamiyyin Wa al-Ikhtilaf al-Musallin, Maktabah an-Nahdah al-Misriyyah, Kaherah, Mesir, 1969, 1: 167. cAbd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Al-Adyan Wa al-Firaq Wa Al-Mazahib Al-Mucasarah, hal: 103.
[10] cAbd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Al-Adyan Wa al-Firaq Wa Al-Mazahib Al-Mucasarah, hal: 103.
[11] Muhammad Muhyiddin Abd al-Hamid, Hasyiah Maqalat al-Islamiyyin Wa al-Ikhtilaf al-Musallin, 1: 167.
[12] cAbd Al-Qahir Ibn Tahir al-Baghdadi, Al-Farq Baina Al-Firaq, Al-Maktabah Al-cAsriyyah, Beirut, Lubnan, 1995, hal: 72.
[13] cAbd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Al-Adyan Wa al-Firaq Wa Al-Mazahib Al-Mucasarah, hal: 103.
[14] Kata al-Kirmani: “Golongan salaf tidak mencukur rambut mereka kecuali untuk ibadat haji dan umrah atau kerana keperluan, sedangkan puak khawarij menjadikannya suatu tabiat sehingga ia menjadi syiar dan identiti bagi mereka”. Lihat: Al-cAsqalaniyy, Ahmad Ibn cAli Ibn Hajar, Fath al-Bari Bi Sharh Sahih al-Bukhari, Dar al-Macrifah, Beirut, t.th, 13:537.
[15] Al-Bukhari, No: 3166, 3414, 3415, 4094, 4770, 6531, 6532, 6533, 6995, 7121, 7122, 7123 dan Muslim, No: 1064-1066.
[16] Muslim, 2:740, No: 1064.
[17] Dr. Ibrahim Anis dan rakan-rakan, Al-Mucjam Al-Wasit, Mujamma Al-Lughah Al-cArabiyyah, Kaherah, Mesir, t.th, hal: 795.
[18] Al-Quran, Sad, 38: 86.
[19] Al-Bukhari, Muhd. Ibn Ismail, Sahih Al-Bukhari, Dar Ibn Kathir, Beirut, 1987, 6: 2658, No: 6863.
[20] Al-Quran, Al-Maidah, 5: 101.
[21] Al-Bukhari, Muhd. Ibn Ismail, Sahih Al-Bukhari (bersama Fath Al-Bari), Dar Al-Macrifah, Beirut, t.th, 11: 306, No: 6473.
[22] Al-cAsqalaniyy, Ahmad Ibn cAli Ibn Hajar, Fath al-Bari Bi Sharh Sahih al-Bukhari, Dar al-Macrifah, Beirut, t.th, 11: 307.
[23] Al-Bukhari, No: 315 dan Muslim, No: 335.
[24] Al-Bukhari, Muhd. Ibn Ismail, Sahih Al-Bukhari, Dar Ibn Kathir, Beirut, 1987, 1: 23, No: 39.
[25] Ibid, 3: 1104, No: 2873.
[26] Ibid, 5: 2269, No: 5773.
[27] Al-Bukhari, No: 1153 dan 5776.
[28] Riwayat berkenaan amalan para Sahabat RA.
[29] Abu cAbd Ar-Rahman ialah kuniyah bagi Ibn Mascud RA.
[30] Al-Bukhari, Muhd. Ibn Ismail, Sahih Al-Bukhari, Dar Ibn Kathir, Al-Yamamah, Beirut, 1987, No: 3166, 3415, 4094, 4770, 4771, 6531, 6532, 6995 dan 7123. Muslim Ibn Al-Hajjaj, Sahih Muslim, Dar Ihya’ At-Turath Al-cArabiyy, Beirut, 1991, No: 1063, 1064 dan 1066.
[31] Seorang tabien thiqah dan juga murid kepada Ibn Mascud yang meriwayatkan athar tersebut.
[32] Ad-Darimi, cAbd Allah Ibn cAbd Ar-Rahman, Sunan Ad-Darimi, Dar Al-Kitab Al-cArabi, Beirut, Lubnan, 1407, 1: 79, No: 204. Sanadnya sahih. Lihat: Ad-Durar As-Saniyyah, atas talian: http://www.dorar.net./mhadith.asp.
[33] Al-Quran, Al-Ancam, 6: 57.
[34] At-Taubah, 9:111.
[35] Muslim, Dar Ihya’ at-Turath al-Arabiyy, Beirut, 1991, 2:749, No: 1066.
[36] An-Nawawi, Yahya Ibn Sharaf, al-Minhaj Fi Sharh Sahih Muslim Ibn al-Hajjaj, al-Matbacah al-Misriyyah, Kaherah, Mesir, 1929, 7:159.
[37] Al-Bukhari, Dar al-Macrifah, 9:99.
[38] Al-Bukhari, Dar al-Macrifah, 13:535.
[39] Al-Bukhari (secara ta’liq dengan lafaz jazam), Dar al-Macrifah, Beirut, t.th, 12:282.
[40] Al-cAsqalaniyy, Ahmad Ibn cAli Ibn Hajar, Fath al-Bari Bi Sharh Sahih al-Bukhari, Dar al-Macrifah, Beirut, t.th, 12:285.
[41] Ibid, 12:285.
[42] Al-Ashcariyy, Abu al-Hasan cAli Ibn Ismacil (M 330 H), Maqalat al-Islamiyyin Wa al-Ikhtilaf al-Musallin, 1: 203.
[43] Ibid, 1: 235-237.
[44] cAbd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Al-Adyan Wa al-Firaq Wa Al-Mazahib Al-Mucasarah, hal: 103.
[45] Al-Ashcariyy, Maqalat al-Islamiyyin Wa al-Ikhtilaf al-Musallin, 1: 167-212 dan cAbd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Al-Adyan Wa al-Firaq Wa Al-Mazahib Al-Mucasarah, hal: 108, 112, 118, 126, 133, 137 dan 144.
[46] Fakta-fakta berkenaan puak Ahbash ini dirujuk dalam Bank Ahbash, atas talian: http://bankahbash.blogspot.com/